Tampilkan postingan dengan label Perasaan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perasaan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 21 Agustus 2015

Ia Tertahan

[karya: Ir Tuhepaly]


tawa sendu diantara kata
kalimat kosong tercipta dengan pilu
jiwanya berontak hebat untuk waktu yang tersita
ia adalah bagian yang hilang dari sepenggal kisah lalu

meski terang, ini tetap saja malam
akankah disambut sang fajar ketika esok hari?
sebuah tanya tertinggal dengan luka terdalam
ia adalah jiwa yang menanti waktu untuk seorang bidadari

meski layu, itu tetap saja bunga
adakah setetes embun rela menyapa dengan lembut?
seberkas sinar terjaga di lubuk hatinya
ia adalah bahagia yang tersesat di pekatnya kabut

meski terlalu singkat, cerita tetap saja sebuah cerita
baginya, kau adalah mentari di celah mendung
setitik cerita manis dalam kisah panjang penuh duka
ia adalah kesalahan yang hadir dengan sejuta maaf tak terbendung

terlalu lama ia terbuai dengan indahnya air mata
entah bagaimana harus menulis cerita baru di lembaran yang sudah usang
terlalu dalam ia terjatuh untuk rasa yang tak pernah ia minta
ia adalah malam yang berharap siang

ia bertanya bagaimana kau menggenggam masa lalu?
ia bertanya seperti apa mimpimu tentang hujan?
ia tertahan di sini...,, dengan sejuta harap yang mulai membatu
ia tertahan di sini...,, dalam kemegahan yang tinggal kenangan
.


Jumat, 28 Juni 2013

KECEWA


Cipta: H. Kusuma DJ.




Kepingan hati yang kupungut dalam dukaku
Tak seperih goresan yang pernah kau buat
Ketika aku harus bersasksi akan tingkahmu
Meliahatmu adalah siksa dalam batinku
Tangis-tangis jiwa, membuat ikatan ini semakin rapuh
Sampai pada hati yang tersudut bisu

Dan kini kutahu siapa sosok dibalik paras indahmu
Sungguh kusesali pertemuan kita dulu
Tak perlu kusalahkan waktu
Tak juga kusalahkan keadaan
Yang membawa kita pada pertemuan itu
Sampai pada suatu senja aku berharap
Harapan sang hati untuk lebih dulu beranjak
Berpisah dengan hidup yang seolah tak pernah adil untukku
Doa-doa hati yang kulontarkan untuk mereka
Berharap suatu waktu kau akan sedar akan ulahmu
Dan kini pisah satu-satunya kata yang layak untukmu

Berat terasa ketika hati harus merindukan masa bersamamu
Hingga aku harus menyerah pada keaadan yang merajamku
Seolah terombang sendirian dalam semudra,
Kau biarkan aku dalam sampan tua tanpa dayung dan seutas layar

Yang dapat kutatap hanaya angin dan awan
Yang mengisyaratkan aku harus pulang dengan tangan hampa

Kini yang ku yakini hanyalah satu
Sudut waktu diman aku akan tahu jelas akan cerahnya
Putusan hati untuk terus menapak
Hingga kutemui belahan dunia tanpa nafsu dan rasa
Subuh yang setia menghadirkan fajar dan embun
Seperti pelangi yang selalu hadir setelah langit memendung dan menangis
Namun tak harus berlarut dalam rasa ini
Sampai pada waktunya kuyakini bahwa badai akan segera pamit
Dan pergi menjauhiku....